Rekayasa Ulang Kebutuhan Siswa

Wajib Belajar atau Hak Belajar

Dalam membentuk menerapkan sistem pendidikan, warisan sistem pendidikan yang berorientasi pada target penyediaan tenaga kerja industri massal, membuat pengelola pendidikan seringkali lebih berperan sebagai subjek yang memiliki otoritas dengan anak didik sebagai obyek yang harus melaksanakan apa yang telah gariskan sebagai pendidkan mereka. Istilah Wajib Belajar menjadi terminologi dimana seolah olah anak didik kita yang harus wajib datang ke sekolah, setiap pagi dari jam 7 hingga jam 1 siang, dihukum ketika telat, tidak boleh keluar sekolah pada jam tersebut, dimarahi ketika membolos dan wajib tunduk pada peratuan peraturan dengan beragam label kedisplinan dan beragam konsekwensi hukuman. Kehadiran siswa di sekolah merupakan harga mati, seolah olah belajar hanya bisa dilakukan pada ruang 6x12 meter persegi bersama guru yang memimpin didepan kelas. Proses belajar tereduksi pada sebuah kegiatan dalam kelas dengan guru bak maha dewa yang tak pernah salah, dan anak didik yang harus siap untuk menelan jargon jargon abstrak yang tak perlu dikunyah, melainkan hanya harus siap memuntahkan kembali jargon jargon abstrak tersebut pada jawaban atas soal saat ujian. Keberhasilan pendidikan juga tereduksi dengan hanya melihat hasil bagaimana siswa menjawab pada ujian ujian tersebut bukan pada tercapainya sebuah kompetensi yang mampu membawa anak didik untuk menghadapi masa depannya.

Pembelajaran menjadi suatu keharusan yang dijalani anak didik, semua siswa dalam kelas mendapatkan satu jenis pola pembelajaran yang sama yaitu pola pengajaran satu arah dari guru kepada siswa, tak perduli kondisi dan situasi psikologi si anak didik. Manakala siswa yang memiliki kecenderungan aktif motorik, atau kreatif dipaksa untuk duduk berjam jam, mendengarkan petuah serta penjelasan sang guru dengan jargon abstrak maka pembelajaran menjadi saat saat yang penuh dengan penderitaan dan sangat membosankan. Selalunya kesalahan ada pada anak didik yang tidak mampu menyerap pembelajaran bukan pada keterbatasan pendidik yang tidak mampu memberikan material yang membuat siswa yang beragam menjadi tertarik dan terus menyimak. Yang wajib belajar adalah siswa, bukan guru yang wajib mengajar dengan benar.. itu clausul yang ada.

Pendidikan dalam Krisis

 

 

Kita lupa, bahwa Wajib belajar seharusnya menjadi sebuah kewajiban bagi pemerintah dan masyarakat untuk menciptakan dan menyediakan sarana belajar yang mampu menyiapkan anak didik mampu menghadapi masa depan nantinya. Wajib belajar harusnya mengarah pada ke pihak otoritas, bukan malah ke anak didik. Bagi anak didik, belajar adalah merupakan Hak mendasar mereka untuk sukses. Mereka berhak untuk belajar meraih kompetensi yang diperlukan dan menjadi pribadi pribadi yang siap menghadapi masadepannya.

Untuk mengingatkan kewajiban diatas, menarik untuk disimak bahwa tugas untuk membuat pembelajaran yang menarik inspiratif menyenangkan menantang dan memotivasi siswa ternayat menjadi sebuah kewajiban sekolah hal ini tertera jelas pada peraturan Pemerintah di bawah ini.

Proses Pembelajaran Menurut PP19

Ironis sekali, peraturan yang sangat pro pada anak didik tersebut sekan akan hilang ditelan gegap gempitanya kesibukan sekolah dalam pencapaian UN, serta keangkuhan sekolah elite untuk mendikte pola international apa yang yang digunakan karena sekolah merasa diperlukan dan berhak memilih siapa siswa yang boleh masuk dan tidak dengan beragam persyaratan, Sementara di lain sisi, banyak sekolah sekolah tersaruk saruk tak mampu mendefinisikan KTSP apa lagi dengan pola kreatif, menyenangkan anak didik. Minim sekali sekolah yang benar benar mampu menjalankan peraturan diatas, baik minim dari sisi pemahaman pembuat kurikulum, pemahaman pelaksana dan pendidik untuk menciptakan KTSP yang benar benar dicintai siswa didiknya, menantang karya aktif siswa dan sanggup menginspirasikan hingga waktu sekolah menjadi terasa singkat denganb keriangan yang ada. Animasi di bawah ini merupakan gambaran akan ketidak mampuan sekolah dalam memahami minat dan potensi siswa didiknya.

Antara permintaan siswa dengan realita pembelajaran Memahami Kebutuhan Siswa

 

Sistem pendidikan konvensional yang ada di Indonesia saat ini sangat didominasi oleh perkembangan penggunaan otak sebelah kiri. Hal ini terindikasikan dari buku buku text yang digunakan dalam pembelajaran. Hampir semua mata pelajaran mentargetkan penguasaan materi sebagai tolok ukur keberhasilan, bahkan dalam mata pelajaran yang lebih bernuansa praktis seperti seni, agama serta etika lingkungan, dibuat sedemikian rupa bagaikan sekumpulan teori dan hapalan, bukan bermuara pada perbaikan sensitifitas rasa dan tingkah laku.

Proses Pembelajaran Menurut Dominasi Otak kanan dan kiri

Hampir hampir tak ada perbedaan atau kekhususan bagi anak anak yang menyenangi tingkah laku organisasi, kreatif maupun yang interaksi sosial yang baik. Pembelajaran bagi siswa yang menyenangi kreatifitas harus tersingkirkan karena target target capaian sekolah yang lebih mementingkan pencapaian kognitif memaluai ujian "paper and penci"lsemata. Sekolah saat ini bagaikan sebuah mesin industri yang mengolah berbagai jenis bahan kayu menjadi sebuah meja yang seragam dan dalam jumlah yang banyak, tanpa melihat keunggulan atau kelemahan dari setiap kayu yang digunakan. Padahal kita tahu tidak semua kayu cocok menjadi meja yang indah, ada yang lebih sesuai dengan menjadi struktur penopang, ada yang cocok menjadi dek kapal arena kuat ada juga yang cocok menjadi papan cor sekali pakai, menjadi kayu peti kemas dan ada juga yang cocok menjadi kayu bakar sekalipun. Terlebih lagi, dengan hanya mengolah beragam kayu memproduksi sebuah meja yang seragam maka sekolah terjebak pada sebuah visi yang akan mencelakakan anak didiknya, karena tidak semua masyarakat perlu meja yang indah semata, ada yang lebih memerlukan kusen atau pintu/

Kita menyadari bahwa manusia pada dasarnya diciptakan unik dan berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Bahkan dua saudara kembar yang terlihat sama secara biologis menunjukkan kepribadian yang berbeda. Dalam hal ini maka alangkah tidak adilnya kalau anak yang jelas berbeda serta memiliki keunikan dan bakat yang berbeda harus melalui sebuah proses belajar yang sama yang hanya mementingkan perkembangan otak kiri yaitu kuadran A dan B. Semua anak hendak bagaikan hendak dicetak menjadi orang yang memiliki nilai akademis yang nomer satu dengan metoda pembelajaran lebih bertumpu pada pengarahan keilmuan satu arah dan prosedur prosedur standar yang dikatakan oleh guru. Sekolah bagaikan sebuah mesin pencetak para sarjana yang mengunyah logika dan pengetahuan tapi miskin perasaan, nilai serta apresiasi spiritual.

Tidak mengherankan kalau kemudian banyak anak didik merasakan pembelajaran di kelas sebagai sebuah aktifitas yang membosankan bahkan ada yang lebih ekstreim mengatakan kelas bagaikan penjara dimana mereka diharuskan untuk belajar. Dan ketika suara bel pulang dibunyikan, terdengar lepasan suara kegembiraan yang luar biasa dari anak didik, hal ini menandakan akan kegagalan sistem pendidikan dalam menciptakan kecintaan terhadap proses pembelajaran dikarenakan penerapan yang satu arah dan membosankan tidak terlihat unsur kesenangan apalagi kecintaaan terhadap proses belajar dikelas. Proses Penggunaan Pola Pembelajaran Sesuai Dengan Kecenderungan Pola Pikir. Setiap siswa unik dengan potensi yang beragam, diperlukan pemahaman pola berfikir apa yang dimiliki anak dan pola belajar mana yang disenangi dan seuai untuk pengembangan kompetensinya. Siswa yang memiliki kecenderungan berfikir dengan kreatif pasti akan berbeda pola belajar dengan siswa yang menyenangi aktifitas interaktif sosial, atau siswa yang menyenangi membaca buku atau yang senang dengan meliobatkan aktifitas jasmaninya.

Dengan proses identifikasi kecenderungan pola pikir siswa, maka didapatkan kelemahan maupun kekuatan yang ada dalam diri siswa tersebut. .

Terdapat korelasi yang jelas antara kecenderungan pola pikir pada setiap anak dengan pola kebutuhan belajar yang dilakukan oleh setiap anak. Gambar dibawah ini menunjukkan korelasi atas kecenderungan pola fikir dengan cara atau kesenangan siswa dalam belajar.

Metoda Pembelajaran Menurut Dominasi 4 Quadran Brain

 

Dari gambar diatas terlihat bahwa sistem pembelajaran yang berkembang di kelas kelas saat ini lebih banyak pada pembelajaran dari ekternal satu arah quadran A, yaitu berpusat pada seorang guru yang dianggap memiliki otoritas keilmuan dan didukung oleh buku buku paket untuk memberikan masukan keilmuan pada anak didik. Sistem pembelajaran ini mengandalkan pada sensor fisik dari siswa, dimulai dengan sensor pendengaran agar dapat mendengar perkataan arahan guru dengan baik, serta sensor mata visual untuk dapat membaca segala tulisan yang ada di papan tulisdan di buku buku paket. Pada level ini maka kemampuan siswa untuk menyerap proses pendidikan seringkali jatuh pada fase mendapatkan pengetahuan (sekedar tahu/Know what). Yang dalam bagan pembelajaran Bloom level ini merupakan level yang terendah. Serta dari kacamata Islam level ini hanya akan melahirkan keyakinan yang mudah bergoyang bilamana diterpa oleh perdebatan sengit.

Di beberapa sekolah, ada guru yang berinisiatif membawa alat alat peraga yang ditampilkan di depan kelas, sesuai dengan materi. Hal ini akan membuat siswa sedikit lebih tahu tentang apa yang dibicarakan oleh guru, bukan hanya sekadar pembelajaran mental namun sudah meningkat menjadi pembuktian melalui mata kepalanya sendiri. Level ini dalam kacamata pembelajaran Technonatura disebut Pembelajaran yang membuat pembuktian sehingga tercapai sebuah level kepercayaan A’inul Yakin, yaitu sebuah keyakinan yang sudah lebih tinggi dari sekedar yakin karena sudah melihat sendiri.

Adapun pola belajar quadran B yang berbasiskan experimen masih belum banyak dilakukan karena biasanya akan memakan biaya yang tinggi. Prosedur pengujian serta jembatan ilmiah dari pengujian diajarkan disini untuk menguatkan teori dalam bentuk yang sesungguhnya. Kalaupun ada proses pengujian laboratorium terbatas pada validasi dari ilmu ilmu yang dipelajari pada untuk quadran A, yaitu tekxtbook. Bukan pada proses pencaharian pemahaman baru terhadap fenomena alam yang baru. Keterbatasan akan tugas tugas yang perlu dikerjakan oleh siswa dengan membuka hasil yang bervariasi atau tidak pada selesai pada hanya sebuah jawaban merupakan sebuah pola belajar eksperimentalis yang masih berkutat pada alam nyata.

Memasuki pada pengembangan wilayah otak kanan maka kita akan melihat jarang sekali kita menemukan sekolah yang siswa dan gurunya berinteraksi secara baik, dimana sang pendidik yang memperkaya anak didik dengan diskusi, serta dialog melalui pembelajaran interaktif bagi perkembangan kecenderungan berfikir di kuadran C. Dengan adanya interaksi, sisi kemanusiaan anak didik berkembang dengan baik dan bukan hanya sebuah percakapan satu arah. Keberanian yang timbul dari anak didukung oleh kematangan emosi dalam menghadapi permasalahan merupakan target utama dalam pengembangan anak anak yang berada pada kelompok C ini.

Lebih memprihatinkan lagi adalah miskinnya sekolah kita menanamkan nilai kreatifitas dalam jiwa anak didik. Karena untuk menciptakan anak didik yang kreatif yaitu memiliki kecenderungan berfikir quadran D, peran guru harus lebih banyak sebagai inisiator pemberi nilai perenungan akan sebuah hal, memberikan motivasi dan pandangan pandangan yang jauh kedepan baik dalam konteks sosial, budaya serta seting peradaban masyarakatserta lalu kemudian memberikan beberapa penggambaran ide solusi dalam konteks yang menyeluruh (hollistik)

Untuk menciptakan sebuah paradigma kelas yang baru yang mengajak siswa untuk aktif berpartisipasi dalam konteks pembelajarannya sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki maka konsep pembelajaran harus ikut memasukkan variasi variasi yang ada baik pada masukan anak didik, variasi pada stile pembelajaran, proses penilaian/assesgment yang berbeda dan tentunya mengakomodasi target serta waktu pencapaian yang juga bervariasi pada setiap orang.

Sebuah konsep pengembangan pendidikan yang mengedepankan pemeliharaan dan pengembangan multi intelegensi yang dimiliki setiap manusia memerlukan kerangka pembelajaran yang mencakup perbedaan anak didik, cara stile belajar dan pengkajian yang berbeda, toleransi atas kecepatan belajar yang berbeda, serta target akhir yang juga mungkin berbeda pada setiap anak. Dalam hal ini metoda tematik dan aktif learning yang telah di uji cobakan dan digunakan di beberapa negara maju telah berhasil mengakomodasi perbedaan perbedaan tersebut.

Metoda belajar dan prosentasi penyerapan

Gambar diatas menjelaskan secara eksplisit, bagaimana penyerapan pembelajaran dari siswa dengan proses belajar yang bervariasi. Bila siswa menerapkan Pola belajar yang paling diatas, yaitu belajar dengan hanya membaca maka dari apa yang dibaca hanay 10% yang tersimpan dan terserap dalam benak si anak didik. Pola pengajaran konvensional pola pasif satu arah, yang lebih menitikberatkan pembelajaran dengan membaca, mendengar perkataan guru dan melihat gambar gambar yang ditayangkan didepan kelas, maka diprediksi hanya 30%yang akan terserap dalam benak siswa.

Sedangkan pola pembelajaran yang menitik berakan pada keaktifan siswa untuk ikut dalam menjalani sebuah pengalaman belajar baik dengan berdiskusi, mengalamai pengalaman langsung, atau melakukan sesuatu secara langsung hands on minds on, proses penyerapan makna pembelajaranini akan mampu diserap sebanyal 70-hingga 90%. Oleh karena itu pembelajar aktif yang mengkaitkan pembelajaran dengan kehidupan real, pada them athema yang nyata akan lebih membuat keterlibatan, semangat serta motivasi siswa dalam belajar.

Konsep pembelajaran dengan thematic dan aktif learning akan memberikan wawasan global mengenai sebuah hal kepada anak didik sesuai dengan thema yang dipelajari. Kemudian sebuah thema diuraikan dari berbagai sudut pandang sehingga masing masing anak didik dapat menyerap sebuah masalah sesuai dengan bakat dan kecenderungan berfikir dan kecepatan daya serap yang dimilikinya dan sekaligus tetap memberikan apresiasi terhadap cara pandang/berfikir kawan lainnya. Gambaran dibawah ini menunjukkan pendekatan konsep tematik yang mengakomodasi perbedaan kecenderungan berfikir, penggunaan pola pembelajaran, metoda assesment dan kecepatan daya serap yang berbeda.

Techno Natura berusaha menyadari hal tersebut dan menyesuaikan profil kecenderungan berfikir dari setiap anak dengan pola belajar yang sesuai. Penerapan dari metoda 4 quadran brain dari Hermmann sangat membantu dalam memberikan gambaran akan kekuatan serta kelebihan dari setiap anak. Metoda Hermann dan identifikasi multi intelegensi dari siswa dilaksanakan sedari dini agar metoda pengajaran dan pola pembelajaran yang diterapkan mendapatkan hasil yang sebaik mungkin.

Untuk dapat meningkatkan dan memperbaiki kelemahan yang ada agar tercapai standar minimum kompetensi maka siswa akan dikelompokan dalam sebuah tim selain dari penambahan materi materi khusus. Kerja tim selain membuat siswa terbiasa dengan pola gotong royong dalam masyarakat industri dan tim work dalam kerja profesional. Juga ditargetkan agar siswa dapat meningkatkan kelemahan pola pikirnya pada quadran yang kurang dari rekan sekerjanya. Oleh karena itu pembentukkan tim yang nantinya terdiri dari empat orang, harus terdiri dari satu orang dengan kecenderungan quadran A, satu orang dengan kecenderungan quadran B, satu orang dengan kecenderungan quadran C, dan satu orang dengan kecenderungan quadran D. Dengan demikian kerja tim akan selain akan saling melengkapi, satu siswa dapat belajar menyeimbangkan pola pola yang lainnya dari bergaul dan belajar dengan teman satu tim

Sebelum siswa masuk kedalam sistim pendidikan TechnoNatura, maka siswa perlu melewati fase evaluasi agar ditemukan karakter serta kecenderungan pola pikir yang dimiliki siswa. Bererapa pertanyaan dengan wawancara langsung dilakukan secara dialogis untuk mengetahui keinginan, harapan serta kendal yang ada dalam benak siswa dilanjutkan kemudian dengan observasi tingkah laku, selama dua atau tiga hari.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer